Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
May 19, 2012, 05:52:46 PM
Home
Forum
Help
Calendar
Login
Register
Di Lelaman Perkahwinan.com
>
Forum
>
Lain-lain
>
Sentuhan Rohani
(Moderators:
SmuRFeT79
,
cheguThamrin
) >
Hadith A Day
Pages: [
1
]
2
...
4
Go Down
« previous
next »
Print
Author
Topic: Hadith A Day (Read 5400 times)
0 Members and 1 Guest are viewing this topic.
Andrina
P.D.C moderators
Offline
Posts: 1264
keep away...I biTe!!!
Hadith A Day
«
on:
November 27, 2004, 06:17:39 PM »
'A'ishah, the wife of Allah's Messenger, may Allah be pleased with her, said: A woman came to me along with her two daughters. She asked me for (charity) but she found nothing with me except one date, so I gave it to her. She accepted it and then divided it between her two daughters and she ate nothing of that. She then got up and went out, and so did her two daughters. When Allah's Messenger (may peace be upon him) came I narrated to him her story. Thereupon he (may peace be upon him) said: Whoever is destined with the responsibility of (bringing up) daughters, and he accords benevolent treatment towards them, they would be protection for him against Hell-Fire.
Logged
sajna
Hulubalang P.D.C
Offline
Posts: 626
Ucapan salam menambahkan kasih sayang..
«
Reply #1 on:
December 05, 2004, 06:48:56 PM »
Dari Abu Hurairah r.a. katanya:
"Rasulullah saw bersabda: "Kamu tiada akan masuk syurga, sebelum kamu beriman. Kamu tiada beriman sebelum kamu berkasih sayang satu sama lain. Tidakkah lebih baik, kalau aku tunjukkan kepada mu sesuatu, yang kalau kamu perbuat, niscaya kamu akan berkasih-kasihan: Sebarkanlah ucapan salam antara sesama kamu!"
ASSALAMUALAIKUM....
jawapan: waalaikum
MUS
salam ;)
Logged
abu_aeisyah
Hulubalang P.D.C
Offline
Posts: 70
PERMISSION FOR INNOCENT SPORT ON 'ID DAYS
«
Reply #2 on:
December 06, 2004, 05:37:19 PM »
'A'isha reported: The Messenger of Allaah (way sallAllaahu alayhi wa sallam) came (in my apartment) while there were two girls with me singing the song of the Battle of Bu'ath. He lay down on the bed and turned away his face. Then came Abu Bakr and he scolded me and said: Oh! this musical instrument of the devil in the house of the Messenger of Allaah (sallAllaahu alayhi wa sallam)! The Messenger of Allaah (sallAllaahu alayhi wa sallam) turned towards him and said: Leave them alone. And when he (the Prophet) became unattentive, I hinted them and they went out, and it was the day of 'Id and negroes were playing with shields and speare. (I do not remember) whether I asked the Messenger of Allaah (sallAllaahu alayhi wa sallam) or whether he said to me if I desired to see (that sport). I said: Yes. I stood behind him with his face parallel to my face, and he said: O Banu Arfada, be busy (in your sports) till I was satiated. He said (to me): Is that enough? I said: Yes. Upon this he asked me to go.
Sahih Muslim Hadith no 1942
Logged
sajna
Hulubalang P.D.C
Offline
Posts: 626
Hadith A Day
«
Reply #3 on:
December 06, 2004, 08:21:05 PM »
However, you would noticed that Rasullullah (saw) did not "enjoyed" them, he turned away his face while the girls were singing. And was facing aisyah (ra) while aisyah was watching the sport.
At the same time, he did not object to it.
I am not an ahli in tafsir hadeeth and neither am I well taught in it. Nevertheless, just to share my thoughts of which are my own, I derive that Rasulullah (saw) is not in favor of singing and the mentioned innocent sport. However, since he did not object to it by asking Abu Bakr (ra) to leave the girls alone, and Aisyah (ra) to watch the sport. It is showing that he gives permission for such celebration.
Wallahu'alam, putting in today's context, does this mean that it is permissable to have singing and dancing as part of 'id celebrations or any celebrations for that matter?
Whatever truth is from Allah and whatever falsehood has come from my weakness. Let us believe in the truth and be grateful for the faith. Amin.
Logged
Andrina
P.D.C moderators
Offline
Posts: 1264
keep away...I biTe!!!
Hadith A Day
«
Reply #4 on:
December 07, 2004, 12:30:28 AM »
hmm, amat bernas sekali. tetapi, kalau tidak silap saya, hiburan tidak digalakkan sama sekali kerana ianya khayalan dunia. jikalau begitu, bagaimana pula dengan nasyid? adakah ianya berunsur hiburan meskipun memuji keagungan Tuhan?
Logged
abu_aeisyah
Hulubalang P.D.C
Offline
Posts: 70
Hadith A Day
«
Reply #5 on:
December 07, 2004, 09:39:28 AM »
Assalamu'aalikum warahamtullahi wabarakatuhu
Afwan....since the topic of music is touched ... let me refer u to this article...
hope find it useful..
after tt pls continue to post hadith..(preferably hasan or saheeh)
once again...afwan..
BArakallahu feek....
HUKUM MUSIK DAN LAGU dalam PANDANGAN AL QUR'AN DAN ASSUNNAH
Pertanyaan:
HUKUM MUSIK DAN LAGU dalam PANDANGAN AL QUR'AN DAN ASSUNNAH
Jawaban:
Segala puji bagi Allah, Kita memuji, memohon pertolongan dan meminta ampun kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan amal
perbuatan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.
Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban yang tidak boleh diabaikan, memberi beberapa ketentuan yang tidak boleh dilampaui dan mengharamkan beberapa perkara yang tidak boleh dilanggar.
Dan selanjutnya Allah mengancam orang yang melampaui ketentuan-ketentuan-Nya dan melanggar apa yang telah diharamkan-Nya, seperti ditegaskan dalam Al-Qur'an yang artinya: Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam api neraka sedang ia kekal didalamnya dan baginya siksa yang menghinakan.
(An-Nisa' : 14).
Menjauhi hal-hal yang dilarang adalah hukumnya wajib. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam: Apapun yang aku larang atas kalian maka jauhilah, dan apapun yang aku perintahkan kepada kalian maka lakukanlah dari padanya semampumu. (HR. Muslim)
Pada kesempatan kali ini, redaksi Risalah Dakwah Al-Hujjah menyuguhkan kepada pembaca yang budiman mengenai Hukum Musik dan Lagu yang InsyaAllah akan kami bahas dengan cara ilmiah menurut pandangan Al-Qur'an dan As-Sunnah yang syahih, perkataan para sahabat, para Imam serta fatwa para ulama' Ahlus-Sunnah wal Jama'ah.
Oleh sebab itu marilah kita melihat dalil-dalil baik dari Al-Quran maupun hadits-hadits yang sahih tentang masalah tersebut, yaitu:
Allah Ta'ala berfirman:
Dan di antara manusia (ada) yang mempergunakan lahwul hadits untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu bahan olok-olokan. (Luqman: 6)
Mengenai ayat ini Ibnu Abbas r.a berkata bahwa Lahwal hadist dalam ayat ini berarti Nyanyian. Sebagaimana diketahui bahwa Ibnu Abbas r.a adalah seorang sahabat yang mendapat do'a dari Rasulullahu shallallahu alaihi
wassalam:
Ya Allah anugrahkanlah kefakihan kepadanya dalam agama ini dan ilmu ta'wil. Dengan do'a dari Rasulullah tersebut para sahabat memberikan gelar kepada Ibnu Abbas r.a dengan gelar Turjumanul Qur'an (Penafsir Al-Qur'an).
Ibnu Mas'ud r.a menerangkan bahwa Lahwal hadist itu adalah al-Ghina (nyanyian). Demi Allah yang tiada sesembahan selain Dia, 3x. Pernyataan Rasulullah mengenai Ibnu Mas'ud adalah Sesungguhnya ia adalah pentalkin yang mudah difahami.
Dalam ayat yang lain Allah berfirman kepada setan:
Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu.
(Al-Isra': 64)
Ibnu Abbas r.a mengatakan : Suaramu dalam ayat ini adalah segala yang membawa kepada kemaksiatan.
Mujahid, pemimpin para ahli tafsir (murid Ibnu Abbas r.a) menyatakan bahwa Suaramu disini artinya Al-Ghina (nyanyian) dan Al-Bathil.
Hasan Al-Basri berkata bahwa ayat ini turun dalam masalah musik dan lagu.
Ibnu Qayyim menambahkan keterangan dari Hasan Al-Basri bahwa suaramu dalam ayat ini adalah duff (rebana). Wallahu a'lam.
Kemudian ayat yang ketiga dalam surat An-Najm: 59-60, Allah berfirman:
Maka apakah kamu merasa heran dengan pemberitaan ini dan kamu mempertawakan dan tidak menangis sedang kamu bernyanyi-nyanyi.
Kata Ikrimah r.a dari Ibnu Abbas r.a bahwa kata As-Sumud dalam akhir ayat ini berarti Al-Ghina menurut dialek Himyar. Dia menambahkan bahwa jika
mendengar Al-Qur'an dibacakan, mereka bernyanyi-nyanyi, maka turunlah ayat ini.
Dalam hadist yang sahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari sahabat Abi Amir dan Abi Malik Al Asy'ari Rasulullah saw bersabda:
Akan muncul dari kalangan ummatku sekelompok orang yang menghalalkan farj (perzinahan), sutera, khamar dan alat-alat musik. (lihat Fatul Bari,10/51).
Dengan kata lain, akan datang suatu masa di mana beberapa golongan dari umat Islam mempercayai bahwa zina, memakai sutera asli, minum-minuman keras dan musik hukumnya halal, padahal semua itu adalah haram.
Adapun yang dimaksud dengan musik di sini adalah segala sesuatu yang menghasilkan bunyi dan suara yang indah serta menyenangkan. Seperti kecapi, gendang, rebana, seruling, serta berbagai alat musik modern yang kini sangat banyak dan beragam. Bahkan termasuk di dalamnya jaros (lonceng, bel, klentengan).
Secara pasti, hadist tersebut diatas menegaskan keharaman nyanyian. Kalaupun tidak ada hadist lain yang menerangkan keharaman nyanyian, hadist diatas
dianggap memadai menjadi dalil keharaman nyanyian, khususnya nyanyian yang syairnya tak bernilai disertai tingkah penyanyi yang tidak memiliki adab
sopan santun.
Dan dalam hadist yang lain dari sahabat Anas bin Malik r.a, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Kelak akan terjadi pada ummat ini (tiga hal): (Mereka) ditenggelamkan (kedalam bumi), dihujani batu, dan diubah bentuk mereka, yaitu jika mereka minum arak, mengundang biduanita-biduanita (untuk menyanyi) dan menabuh (membunyikan) musik. (As-Silsilah Ash Shahihah, 2203, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitab Dzammul Malahi dan At-Tarmidzi No. 2212).
Para pembaca yang budiman, untuk lebih ilmiahnya pembahasan ini marilah simak perkataan para sahabat dan para imam serta para ulama mengenai masalah
ini:
a. Abu Bakar Shiddiq r.a: Nyanyian dan alat musik itu adalah seruling setan.
b. Abdullah bin Mas'ud r.a: Nyanyian itu dapat menyebabkan kemunafikan dalam hati.
c. Al-Qasim bin Muhammad: Menyanyi itu termasuk perbuatan bathil dan setiap yang bathil bagiannya adalah neraka.
d. Khalifa Umar bin Abdul Aziz: Nyanyian itu berawal dari setan dan ujungnya adalah kebencian Allahurrahman.
e. Imam Malik bin Anas: Bagi kami nyanyian itu hanya dilagukan oleh orang-orang fasik.
f. Imam Syafi'i: Menyanyikan nyanyian adalah perbuatan sia-sia yang dibenci dan menyerupai kebathilan dan kesia-siaan. Serta dalam kitabnya Al Qadha'
beliau berkata: Nyanyian adalah kesia-siaan yang dibenci, bahkan menyerupai perkara batil. Barangsiapa memperba-nyak nyanyian maka dia adalah orang
dungu, syahadat (kesaksiannya) tidak dapat diterima.
g. Imam Ahmad bin Hambal: Nyanyian itu dapat menumbuhkan nifak dihati. Saya sama sekali tidak tertarik pada hal seperti itu.
h. Para pengikut Imam Abu Hanifah: Mendengar nyanyian itu termasuk perbuatan fasikn dan tenggelam dalam keasyikannya merupakan kekufuran.
i. Imam Qurthubi: Nyanyian itu merupakan salah satu yang dilarang dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.
j. Imam Ibnu Shalah: Nyanyian yang diiringi musik hukumnya haram secara ijma'.
Nyanyian dan musik merupakan dua pintu yang dilalui setan untuk merusak hati dan jiwa. Kaitannya dengan hal itu, Imam Al-Hafiz Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
berkata: Diantara tipu daya setan - musuh Allah - dan diantara jerat yang dipasangnya untuk orang yang sedikit ilmu, akal dan agamanya, sehingga orang
yang bersangkutan tersebut terjebak kedalamnya untuk mendengarkan kidung dan nyanyian yang diiringi musik yang diharamkan.
Satu hal yang mengherankan adalah sebagian manusia yang mengaku memiliki konsentrasi untuk ibadah justru telah menjadikan nyanyian, tarian dan lagu-lagu lain sebagai wahana untuk beribadah sehingga mereka meninggalkan
Al-Qur'an.
Ibnu Qayyim dalam kitabnya Ighatsatul-Lahfan min Mashayidisy-Syaithan
menamai nyanyian seperti itu dengan sepuluh nama, yaitu: lahwun (main-main),
laghwun (pekerjaan sia-sia), zuur (kebathilan), muka (siulan), tasydiah (tepuk tangan), ruqyatuz-zina (jimat dalam perzinahan), pedomannya setan, penumbuh nifak didalam hati, suara kedunguan, suara yang penuh dosa, suara setan atau seruling setan.
NYANYIAN YANG DIPERBOLEHKAN
Ada beberapa nyanyian yang diperbolehkan yaitu: Menyanyi pada hari raya. Hal itu berdasarkan hadits A'isyah:
Suatu ketika Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam masuk ke bilik 'Aisyah, sedang di sisinya ada dua orang hamba sahaya wanita yang masing-masing memukul rebana (dalam riwayat lain ia berkata: ... dan di sisi saya terdapat dua orang hamba sahaya yang sedang menyanyi.), lalu Abu Bakar mencegah keduanya. Tetapi Rasulullah malah bersabda: Biarkanlah mereka karena sesungguhnya masing-masing kaum memiliki hari raya, sedangkan hari
raya kita adalah pada hari ini. (HR. Bukhari)
Menyanyi dengan rebana ketika berlangsung pesta pernikahan, untuk menyemarakkan suasana sekaligus memperluas kabar pernikahannya. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
Pembeda antara yang halal dengan yang haram adalah memukul rebana dan suara(lagu) pada saat pernikahan. (Hadits shahih riwayat Ahmad). Yang dimaksud di sini adalah khusus untuk kaum wanita.
Nasyid Islami (nyanyian Islami tanpa diiringi dengan musik) yang disenandungkan saat bekerja sehingga bisa lebih membangkitkan semangat,terutama jika di dalamnya terdapat do'a. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wasallam menyenandungkan sya'ir Ibnu Rawahah dan menyemangati para sahabat saat menggali parit. Beliau bersenandung:Ya Allah tiada kehidupan kecuali
kehidupan akherat maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin.
Seketika kaum Muhajirin dan Anshar menyambutnya dengan senandung lain:
Kita telah membai'at Muhammad, kita selamanya selalu dalam jihad.
Ketika menggali tanah bersama para sahabatnya, Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga bersenandung dengan sya'ir Ibnu Rawahah yang lain:
Demi Allah, jika bukan karena Allah, tentu kita tidak mendapat petunjuk, tidak pula kita bersedekah, tidak pula mengerjakan shalat. Maka turunkanlah ketenangan kepada kami, mantapkan langkah dan pendirian kami jika bertemu(musuh) Orang-orang musyrik telah mendurhakai kami, jika mereka mengingin-kan fitnah maka kami menolaknya.
Dengan suara koor dan tinggi mereka balas bersenandung Kami menolaknya, ...kami menolaknya. (Muttafaq 'Alaih) Nyanyian yang mengandung pengesaan Allah, kecintaan kepada Rasululah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan menyebutkan sifat-sifat beliau yang terpuji; atau mengandung anjuran berjihad, teguh pendirian dan memper-baiki akhlak; atau seruan kepada saling mencintai, tolong menolong di antara sesama; atau menyebutkan beberapa kebaikan Islam, berbagai prinsipnya serta hal-hal lain yang bermanfaat buat masyarakat Islam, baik dalam agama atau akhlak mereka.
Di antara berbagai alat musik yang diperbolehkan hanyalah rebana. Itupun penggunaannya terbatas hanya saat pesta pernikahan dan khusus bagi para wanita. Kaum laki-laki sama sekali tidak dibolehkan memakainya. Sebab Rasul Shallallahu 'Alahih Wasallam tidak memakainya, demikian pula halnya dengan para sahabat beliau Radhiallahu 'Anhum Ajma'in.
Orang-orang sufi memperbolehkan rebana, bahkan mereka berpendapat bahwa menabuh rebana ketika dzikir hukumnya sunnat, padahal ia adalah bid'ah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan adalah bid'ah. dan setiap bid'ah adalah sesat. (HR. Turmudzi, beliau
berkata: hadits hasan shahih).
KIAT MENGOBATI VIRUS NYANYIAN DAN MUSIK
Di antara beberapa langkah yang dianjurkan adalah:
Jauhilah dari mendengarnya baik dari radio, televisi atau lainnya, apalagi jika berupa lagu-lagu yang tak sesuai dengan nilai-nilai akhlak dan diiringi
dengan musik.
Di antara lawan paling jitu untuk menangkal ketergantungan kepada musik adalah dengan selalu mengingat Allah dan membaca Al Qur'an, terutama surat
Al Baqarah. Dalam hal ini Allah Ta'ala telah berfirman:
Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan
petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.(Yunus: 57)
Sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang di dalamnya dibaca surat Al Baqarah. (HR. Muslim)
Membaca sirah nabawiyah (riwayat hidup Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam), demikian pula sejarah hidup para sahabat beliau.
SANGGAHAN UNTUK PARA PENGIKUT HAWA
Sering kita saksikan, sebagian para pengikut hawa nafsu, orang-orang yang lemah jiwa dan sedikit ilmunya manakala mendengar perkara-perkara yang diharamkan secara berturut-turut ia berkeluh kesah sambil berujar: Segalanya haram, tidak ada sesuatu apapun kecuali kamu mengharamkannya, kamu telah menyuramkan kehidupan kami, kamu membuat gelisah hidup kami, menyempitkan dada, kamu tidak memiliki selain haram dan mengharamkan. Agama ini mudah, persoalannya tak sesempit itu dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Untuk menjawab ucapan mereka, kita katakan sebagai berikut: Sesungguhnya Allah Subhanallahu Wata'ala menetapkan hukum menurut kehendak-Nya, tidak ada
yang dapat menolak ketetapan-Nya. Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui, maka Ia menghalalkan apa yang Ia kehendaki dan mengharamkan apa yang dikehendaki-Nya pula dan diantara pilar kehambaan kita kepada Allah Azza Wajalla adalah hendaknya kita ridha dengan apa yang ditetapkan olehnya, pasrah dan berserah diri kepada-Nya secara total. Wallahu a'lam.
Sumber dari:
1. Muharramatustahaana bihannasu Yajibulhazru min ha hal: 100 - 102
2. Buyuut La tad Khuluha al-Malaikatu Hal: 117 - 121
[Muharramatustahaana bihannasu Yajibulhazru min ha & Buyuut La tad Khuluha al-Malaikatu]
Logged
sajna
Hulubalang P.D.C
Offline
Posts: 626
Hadith A Day
«
Reply #6 on:
December 07, 2004, 05:40:11 PM »
Jazakallahu Khair Wa Kathiran ya Akhi.
Logged
Andrina
P.D.C moderators
Offline
Posts: 1264
keep away...I biTe!!!
Hadith A Day
«
Reply #7 on:
December 07, 2004, 09:36:09 PM »
Alhamdulillah, terima kasih ye
jika ada lagi, silalah bentangkan. sukacita saya membacanya
Sabda Rasulullah SAW: Tiga golongan manusia yang sangat dimurkai Allah iaitu yang cenderung kepada perkara yang haram, orang yang mengikut perbuatan jahilliyah dan orang membunuh orang lain tanpa hak. -Riwayat Bukhari dan Muslim
Logged
Andrina
P.D.C moderators
Offline
Posts: 1264
keep away...I biTe!!!
Hadith A Day
«
Reply #8 on:
December 08, 2004, 09:44:51 AM »
Anas bin Malik, may Allah be pleased with him, reported:
Allah's Messenger (may peace be upon him) was neither very conspicuously tall nor short-statured, and his color was neither glaringly white nor brown; his hair was neither very curly nor very straight. Allah commissioned him (as a Prophet) when he had reached the age of forty, and he stayed in Makkah for ten years and for ten years in Madinah; Allah took him unto Him when he had just reached the age of sixty, and there had not been twenty white hair in his head and beard.
(Hadith number in Sahih Muslim [Arabic only]: 4330)
Logged
abu_aeisyah
Hulubalang P.D.C
Offline
Posts: 70
Purity and Sincerity of Intention
«
Reply #9 on:
December 10, 2004, 11:26:24 AM »
From 'Umar ibn al-Khattaab (radiyallaahu 'anhu) who said that Allah's Messenger (salallaahu 'alaihi wa'sallam) said: Actions are but by intentions and there is for every person only that which he intended. So he whose migration was for Allaah and His Messenger, then his migration was for Allaah and His Messenger, and he whose migration was to attain some worldly goal or to take a woman in marriage, then his migration was for that which he migrated.
Reported by al-Bukhari (English Translation Volume 1 Page 1 No. 1) and Muslim (Eng. Trans. Vol. 3, page 1056, no. 4692)
--------------------------------------------------------------------------------
NOTES:
So the pillar of actions is pure and sincere intention, and through purity of intention the hearts become upright and at rest, and through it the person comes to know the right way in his Religion, thus he does everything in the proper manner. Through purity of intention alone will he come to know of the obligations upon him and the rights due to him. Through it he will behave justly in all affairs and will give everything its due right, not going beyond bounds or falling short of the mark. So this hadeeth is one of the ahadeeth which are the pillars of correct understanding of our upright and true religion.(At-Taqyeed (2/6-7) of Ibn Nuqtah). So when the Muslim servant clearly realises what he has preceded then it becomes obligatory upon him that he should, without any hesitation, surround his sincere intention with the protective barrier for the Islamic Personality.
Logged
miskin
Hulubalang P.D.C
Offline
Posts: 88
Hadith A Day
«
Reply #10 on:
December 11, 2004, 09:33:05 PM »
In the Name of Allah the Most Compassionate and Most Merciful
Imam Ghazali states in Kitab al-Arba‘in, in the section on “The Principle of Following the Sunna”:
“Know that the key to happiness is the following of the sunna and the imitation of the example of the Messenger of Allah (peace and blessings be upon him) in all his comings and goings, motions, and rests even in the aspect of his eating, rising, sleeping and speaking.
I do not say this only in regard to his practice in the proper manners of worship, for there is no reason for the neglecting of these sunnas; rather, I say this in all the matters of customs.
Thus, there results the absolute following [of the Prophet (Allah bless him and give him peace)]. Allah said, “Say: If you love Allah, follow me; Allah will love you."
And Allah also said, “Whatever the Prophet gave you, take it, and whatever he forbids you, desist from it.”
It is thus only proper for you to put on full trousers while sitting and to attire yourself with a turban while standing. It is also proper that, when you put on your shoes, you begin with the right foot; that you eat with your right hand; that you cut your fingernails beginning with the forefinger of the right hand and ending with the thumb of the right hand; that you begin with the little toe with the right foot and finish with the little toe of the left foot. Thus in all your movements and rests.… Moreover you must not show levity in regard to these matters and say that these things appertain only to customs and that there is no meaning to follow these. For if you do this, there will close against you a great door of the doors of happiness.
[Ghazali, Etiquettes of living and the Prophetic Mannerism, Book XX of Ihya’ Ulum al-Din, based on the foreword of the translation]
Wassalam
Logged
abu_aeisyah
Hulubalang P.D.C
Offline
Posts: 70
Hadith A Day
«
Reply #11 on:
December 12, 2004, 07:18:44 AM »
From Ibn 'Umar (radiyallaahu 'anhumaa) who said that Allah's Messenger (salallaahu 'alaihi wa'sallam) said:
I have been sent before the Hour so that Allaah alone should be worshipped without any partner for Him, and my provision has been placed beneath the shade of my spear, and subservience and humiliation have been placed upon those who disobey my orders, and whoever imitates a people then he is one of them.
Reported by Ahmad (no. 5114) and others with hasan (good) isnaad (chain of narration). I have spoken about it in more detail in my footnotes to al-Hikamul Jadeerah bil Idhaa'ah (pg. 1-3) of Ibn Rajab
NOTES
The Muslim has a distinct personality with it's own special nature and particular outlook and manner. It is distinct in its appearance, its nature, its creed ('aqeedah), its orientation and direction faced in Prayer, and in all its affairs. By being distinct as Muslims we preserve our Islaam and our call in a clear and pure form, free from any adulteration and mistakes. However the Muslim whilst being distinct does not depart from
Logged
Andrina
P.D.C moderators
Offline
Posts: 1264
keep away...I biTe!!!
Hadith A Day
«
Reply #12 on:
December 12, 2004, 07:48:01 AM »
Narrated Aisha, Ummul Mu'minin:
Do not give up prayer at night, for the Apostle of Allah (peace_be_upon_him) would not leave it. Whenever he fell ill or lethargic, he would offer it sitting.
(Sunan Abu-Dawud, Book 5, Number 1302)
Logged
abu_aeisyah
Hulubalang P.D.C
Offline
Posts: 70
Hadith A Day
«
Reply #13 on:
December 13, 2004, 07:42:31 AM »
Quote from: "Andrina"
Narrated Aisha, Ummul Mu'minin:
Do not give up prayer at night, for the Apostle of Allah (peace_be_upon_him) would not leave it. Whenever he fell ill or lethargic, he would offer it sitting.
(Sunan Abu-Dawud, Book 5, Number 1302)
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu
Good hadith....and a good way to show forummers how to perform qiyam lail (which is difficult for most of us..including me) if lethargic....Jazakallahu khair...
From Abu Hurairah (radiyallaahu 'anhu) who said that Allaah's Messenger (salallaahu 'alaihi wa'sallam) said: Love the one whom you love to a certain degree (moderately), perhaps one day he will be someone for whom you have hatred, and hate the one for whom you have hatred to a certain degree (moderately), perhaps one day he will be one whom you love.
Reported by at-Tirmidhee (no. 1997) and others by way of Suwayd ibn 'Amr al-Kalbee: Hammad ibn Salamah narrated to us from Ayyoob as-Sakhtiyanee from Muhammad ibn Seereen from him. This isnaad is Saheeh (authentic) if Allaah wills.
--------------------------------------------------------------------------------
NOTES
The Muslim is justly balanced in his loving and his hating. He is just both when giving and when taking and is moderate in all of that. His being justly balanced is one of the signs of his Religion and the Sharee'ah. So he is not one who goes beyond the limits, nor one who falls short of what is required. Furthermore the Muslim does not derive this quality of being justly balanced from his intellect and desires, nor from his own opinion or other than this, rather he takes it from the Book of Allaah, the One free of all imperfections. "Thus we have made you a justly balanced nation, that you be witnesses over mankind and the Messenger (Muhammad (salallaahu 'alaihi wa'sallam)) be a witness over you." (Soorah al-Baqarah (2): 143). Being justly balanced is not an easy matter, indeed many of those who call out and declare it, desire only to water matters down and compromise. So for a person to be truly justly balanced as ordered by Allaah is not, as I have said, easy.
Logged
abu_aeisyah
Hulubalang P.D.C
Offline
Posts: 70
Hadith A Day
«
Reply #14 on:
December 18, 2004, 06:14:17 AM »
Striving Against One's Desires
From al-'Alaa ibn Ziyaad who said: A man asked 'Abdullah ibn 'Amr ibn al-'Aas, saying: Which of the Believers is best in his Islaam? He replied: He from whose tongue and hand the Muslims are safe. He asked: Then what is the best Jihaad? He replied: He who strives against his own self and desires for Allaah. He asked: Then which of those who migrates (performs hijrah) is best? He replied: He who strives against his own self and desires for Allaah. He asked: Is it something you have said O 'Abdullah ibn 'Amr, or Allaah's Messenger (salallaahu 'alaihi wa'sallam)? He said: Rather Allaah's Messenger (salallaahu 'alaihi wa'sallam) said it.
Reported by Ibn Nasr al-Marwazee in Ta'zeem Qadris Salaat (no. 639)
--------------------------------------------------------------------------------
NOTES
So striving against ones own self is one of the highest and most valuable means of increasing ones eemaan and causing the servant to draw closer to his Lord, the One free of all imperfections. Concerning this He the Blessed and Most High says: "As for those who strive hard in Us (Our Cause), We will surely guide them to Our Paths (i.e. Allaah's Religion)" (Soorah al-Ankaboot (29):69 ). So a Muslim's striving against his own self and his desires causes his spirit to rise higher, his eemaan to increase and his soul to become purified.
Logged
Pages: [
1
]
2
...
4
Go Up
Print
« previous
next »
Jump to:
Please select a destination:
-----------------------------
Umum
-----------------------------
=> Pengumuman
=> Maklum-Balas
-----------------------------
Perkahwinan
-----------------------------
=> Anakku Duniaku
-----------------------------
Kehidupan Seharian
-----------------------------
=> Kedai Kopi
=> Dunia Hiburan
=> Buka Minda
-----------------------------
Lain-lain
-----------------------------
=> Cakap I.T
=> Bahasa Dunia
=> Sentuhan Rohani
Loading...